Saturday, 13 July 2013

Kisah Perjalanan di TOKI: Saya, OSK, dan OSP

Pengalaman Ikut OSN Komputer...

Tahun demi tahun berlangsung begitu cepat. Saya yang dulu mengikuti OSN 2009 bidang komputer telah menyaksikan begitu banyak medalis dan wajah-wajah baru anggota TOKI 201#. Seperti judul di atas, saya ingin berbagi cerita tentang kisah saya di TOKI. Tulisan ini rasanya akan menjadi panjang dan berseri, karena saya menikmati pengetikannya.

Tentang Saya
Ketika mampir ke rumah teman, biasanya ada sebuah rak berisi sejumlah piala yang kelihatannya adalah bukti dari prestasi mereka. Hmm kalau yang saya ingat, beberapa di antaranya adalah lomba cerdas cermat, menyanyi, membaca puisi, atau yang lainnya.

Bagaimana dengan saya? Saya bukan orang yang rumit. Masa kecil saya banyak digunakan untuk menggambar, mencorat-coret kalender bekas tahun lalu, dan bermain nintendo. Saya tidak mengikuti kursus bernyanyi, bermain musik, melukis, matematika, atau keterampilan lainnya seperti kebanyakan teman-teman saya. Di kala teman-teman sering mendapat nilai 100, biasanya saya mendapatkan nilai 70-an. Secara rata-rata, kemampuan saya merata (lho).

Bertemu dengan Pemrograman
Pada saat saya kelas SMP 2 akhir, guru komputer di sekolah saya menyeleweng mengajarkan pemrograman Visual Basic. Alasannya karena kurikulum komputer saat itu adalah penggunaan Ms Office, yang mana sudah cukup diajarkan saat SD dan SMP 1. Hasilnya, banyak teman-teman yang protes karena bingung tentang pemrograman. Terlepas dari itu, saya menemukan bahwa pemrograman begitu menarik. Rasanya sangat alami ketika saya merancang dan menuliskan alur algoritma (meskipun saat itu hanya if, for, dsb).

Waktu berlalu dan saya mendapatkan warisan dari senior sebuah buku tentang Visual Basic. Karena waktu liburan panjang, saya menggunakannya untuk sekedar baca-baca buku itu. Di luar prediksi, ternyata isi buku itu sangat menarik! Kita dikenalkan tentang GUI dan bagaimana cara menggunakannya. Dari kecil, saya pernah memimpikan untuk memahami bagaimana membuat game. Akhirnya dengan ilmu dari buku itu dan teman penggemar pemrograman, saya berhasil membuat hangman dan beberapa permainan sederhana berbasis GUI.

Tahun berikutnya, saya mengisi waktu luang dengan mempelajari Flash (waktu itu masih Macromedia Flash, versi 8). Di sana saya belajar ilmu desain grafis, animasi, dan menulis Action Script untuk membuat permainan yang lebih baik. Pembelajaran ini meningkatkan kemampuan pemrograman saya secara drastis (begitupula dengan nilai matematika di sekolah, hahaha).

Jeblos di OSK
Memasuki SMA kelas 1, guru biologi saya mendadak masuk ke kelas dan bertanya "ada yang mau ikut lomba fisika?". Hmm rasanya menarik, karena nilai fisika saya lumayan baik (pada saat itu), tetapi berhubung peminatnya banyak saya tidak ikut mencalonkan diri. Berikutnya beliau berkata "ada yang mau ikut lomba matematika?", lalu hal yang sama terulang kembali. Begitu terus hingga biologi, geografi, ekonomi, astronomi, dll disebutkan. Hingga pada suatu ketika "ada yang mau ikut lomba komputer?". Saya terdiam, mendadak waktu menjadi terasa pelan dan muncul banyak pikiran di kepala saya. Lomba komputer, apa yang diujikan? Apakah saya disuruh membenahi sebuah komputer bervirus? Apakah saya diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar teknologi seperti cerdas cermat? Atau saya disuruh membajak komputer lain? Cukup percaya diri dengan kemampuan komputer saya, tanpa pikir panjang saya mengacungkan tangan dan mengucapkan "saya".

Beberapa hari kemudian saya mendapatkan utusan dari sekolah, bersama dengan empat orang teman yang lain untuk pergi ke SMAN 72 untuk mengikuti pelatihan olimpiade. Olimpiade apa? OLIMPIADE KOMPUTER! Kapan saya mendaftar? Ternyata lomba yang dikatakan guru biologi saya itu OLIMPIADE.

Akhirnya bersama dengan teman-teman satu sekolah dari bidang lain (biologi, geografi (sebenarnya kebumian), astronomi, dsb) kami pergi mengembara ke SMAN 72. Terima kasih kepada kopami, transjakarta, dan metromini hingga akhirnya kami bisa sampai di sana. Di sana kami diberikan contoh soal yang akan diujikan. Ternyata, sebagian besar soal-soal yang diujikan untuk bidang komputer adalah logika dan pemgrograman. Kami diminta menjawab berapa dijit terakhir dari \(2^{2009}\), menebak output dari suatu potongan program, dan semacamnya. Pertama kali mengerjakan soal itu, kepala saya benar-benar panas! Apalagi bertemu dengan fungsi rekursif, yang mana baru pernah saya temukan pertama kali. Sepulang pelatihan itu, saya mulai mencari tahu dengan bantuan google. Saya unduh soal-soal yang ada, lalu mempelajarinya lebih jauh.

Beberapa minggu kemudian, kami diutus kembali ke SMAN 72 untuk mengikuti pelatihan. Ternyata saat itu bukan pelatihan, tetapi seleksi! Saya yang datang agak telat langsung mengambil soal dan duduk di pojok, mengerjakan soal-soal tersebut.

Jarum jam saling bersilangan untuk kesekian kalinya, dan beberapa siswa yang lain mulai meninggalkan kelas setelah mengumpulkan berkas jawaban. Suara-suara riuh mulai terdengar dari luar jendela, maklum gejala siswa sesudah ujian (mahasiswa juga, sih). Namun saya tetap duduk di pojokan sana, mengerjakan soal-soal itu sambil makan dan minum snack kotakan yang diberikan. Hingga suatu ketika tinggal saya dan pengawas saja yang ada di ruangan itu (mungkin sudah berlalu 3 jam), akhirnya saya diminta untuk menyudahi pekerjaan dan pulang. Di luar sudah ada teman-teman saya menunggu, karena mereka sudah selesai duluan dan bosan menanti saya yang keluar paling akhir (maafkan saya). Oh ya, kebiasaan mengerjakan ujian sampai batas waktu terakhir menjadi kebiasaan saya hingga saat ini.

Dua minggu kemudian, papan pengumuman sekolah dibanjiri wajah-wajah yang saya kenal cukup baik. Mereka adalah orang-orang yang ikut bersama ke SMAN 72. Singkatnya, hasil seleksi itu sudah keluar! Secara mengejutkan muncul nama saya di peringkat 13 dari 30 yang diambil, se-Jakarta Utara. Ketika saya lihat-lihat siapa yang berada di peringkat atas, rasanya menjadi membara dan bersemangat untuk belajar lebih jauh lagi. Pada saat itu, tinggal 4 dari 5 perwakilan bidang komputer sekolah saya yang masih bertahan.

Saya mulai mengerjakan soal-soal yang bisa saya unduh, terima kasih kepada google. Kadang-kadang ada soal yang sangat sulit (pada saat itu) hingga saya perlu waktu 3 hari untuk menyelesaikannya (soal itu adalah soal rekursi). Astaga waktu itu benar-benar hari-hari yang membuat otak saya terus bekerja.

Seleksi berikutnya mulai diadakan lagi, kali ini diambil 25 besar. Rasa-rasanya peluang lolos masih cukup besar karena saingannya tetap sama dan dulu saya pernah peringkat 13. Seperti biasa, saya keluar terakhir dari ruangan dan teman-teman menunggu saya selesai. Hasilnya cukup bagus, saya di peringkat 7. Saat itu tinggal 3 dari 5 perwakilan bidang komputer sekolah saya yang masih bertahan (sayang sekali yang satunya sakit pada saat seleksi).

Beberapa saat kemudian saya mendapatkan utusan ke SMAN 70. Aksesnya cukup mudah dari tempat tinggal saya karena tinggal naik kopaja sekali saja (meskipun sangat lama) untuk sampai ke sana. Kami mulai bertemu dengan peserta dari Jakarta Barat, Timur, Pusat, dan Selatan. Tampak cukup menyeramkan, karena saya melihat beberapa seragam sekolah unggulan yang nantinya akan menjadi saingan (sebut saja putih-abu, kotak-kotak hijau, batik-jeans, one jacket, dan beberapa siswa yang berwajah sangat geek).

Di SMAN 70, saya mulai menemukan berbagai hal yang mengejutkan. Misalnya menggunakan rekursi untuk membangkitkan permutasi N bilangan, menghitung banyaknya kemungkinan dengan permutasi dan kombinasi, dan algoritma merge sort. Di sana saya juga bertemu dengan Ryan Elian (atau Ellian saya lupa) yang sedang mengajar, yang rumornya sedang mengikuti Pelatnas TOKI (setelah cukup tua di TOKI saya sadar bahwa rumor itu benar).

Pertemuan ke-3 di SMAN 70 diakhiri dengan seleksi 100 besar secara keseluruhan (dari 125 peserta, 25 dari tiap kotamadya). Tanpa disangka saya menduduki peringkat 2! Oh wow, entah apa yang terjadi dengan peserta sakti lainnya, mungkin ngefur. Saat itu tersisa 2 orang saja dari perwakilan sekolah saya. Entah kebetulan atau memang takdir tetapi rasanya satu per satu terus menghilang di setiap tahap.

Pelatihan mulai mengganas dimana saya harus izin sekolah selama beberapa hari. Pelaksanaan pelatihan di SMAN 112, Jakarta Barat. Meskipun saya di Jakarta Utara, tetapi untuk pergi ke sana (dengan 3 kali transit angkot) butuh 2 jam! Berhubung pelatihan berlangsung beberapa hari, saya mulai berteman dengan peserta-peserta lainnya. Bahkan kadang-kadang mereka mengajak saya makan kwetiaw di belakang SMAN 112 dengan istilah mereka "ngetiaw" (sayangnya saya tidak pernah ikut dengan mereka karena sudah disediakan nasi kotak).

Beberapa hari pelatihan di SMAN 112, pelatihan dipindahkan ke IPEKA internasional. Berhubung letaknya lebih jauh lagi dari SMAN 112, saya harus menambah transit angkot sekali lagi (oh astaga).

Secara umum, pelatihan ini lebih menambah pengalaman saya berkompetisi. Maksudnya saya semakin tenang dalam mengerjakan soal, lebih biasa dalam menghadapi pesaing yang kuat, dan sebagainya. Di sini juga saya bertemu dengan Ricky Jeremiah, TOKI 2007 yang turut serta mengajar dalam kesempatan tersebut.

Berikut ini adalah foto peserta 30 besar OSP (saya ada di bawah Garuda Pancasila)
Oh ya, ngomong-ngomong saya baru ingat kenapa tidak ada foto saya dan teman-teman saat OSK, padahal waktu itu kita berfoto. Ternyata alasannya karena saat itu saya belum punya facebook.

Waktu menuju seleksi OSP semakin singkat. Dari 100 peserta, sekitar 10%-nya mewakili Jakarta di ajang OSN 2009. Berhubung saya pernah peringkat 2 (entah sedang beruntung atau apa), sebenarnya peluang saya lolos cukup besar. Namun berdasarkan informasi batas kemampuan tiap peserta yang saya amati saat pelatihan berlangsung, sebenarnya kemampuan saya belum ada apa-apanya. Mereka-mereka merupakan mantan petarung lomba-lomba semacam logika dan matematika (apalagi sederetan orang ber-jacket-one). Bagaimanapun juga, saya tidak peduli. Saya kuatkan tekad bahwa performa mereka tidak mempengaruhi performa saya dalam mengerjakan soal.

Menjelang hari OSP, saya pergi survey ke lokasi ujiannya (kalau tidak salah SMAN 3 Setiabudi). Aksesnya cukup rumit karena perlu transit transjakarta + angkot beberapa kali, diakhiri dengan berjalan yang cukup jauh. Minimal dengan survey itu saya dapat gambaran di mana lokasinya dan bisa hadir tanpa telat.

Tiba waktunya untuk seleksi OSP. Saya akhirnya hadir lebih awal dari waktu ujian dan dapat mencari kelas yang perlu saya tempati. Di sana mulai melihat kondisi sekitar: apakah saya terkena semburan AC? Apakah silau? Apakah mejanya berlubang? Apakah kursinya aneh? Yah mungkin agak berlebihan tetapi untuk hari spesial saya memang suka seperti ini. Secara umum performa saya ketika mengerjakan soal tidak terlalu baik, setidaknya tidak sebaik ketika seleksi 100 besar sebelumnya. Beberapa soal ada yang saya jawab dengan "menembak" atau bahkan tidak saya jawab. Entahlah, karena sudah bertekad untuk mengerjakan soal sebaik mungkin rasanya tidak terlalu terbebani. Akhirnya, saya dapat mengerjakan soal-soal OSP semaksimal mungkin dan rasanya tidak ada penyesalan.

Seusai OSP, saya dan beberapa teman sekolah yang masih bertahan kembali ke kehidupan biasa: ikut ujian susulan, mengerjakan tugas susulan, dan berlibur. Saya tidak lagi menyentuh urusan soal-soal lagi, dan benar-benar lepas dari pikiran tersebut. Yang perlu dilakukan hanya hidup seperti siswa biasa dan menanti hasilnya.

Sekuel kisah perjalanan di TOKI:

7 comments :

  1. lah nyampe OSP doang? XD OSN sama IOI nya mana :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca sekuel selanjutnya aja yg ada di bagian bawah postingan di atas. Buat yang seterusnya sampai IOI masih dalam penulisan :)

      Delete
  2. Assalamualikum,,
    keren yah perjalanannya :D
    Semoga ane bisa seberuntung kaka yh :D Aamiin

    ReplyDelete
  3. Kak punya cara cepat untuk mengerjakan soal tingkat OSK nggak??

    ReplyDelete
  4. cukup envy juga baca story nya agan,nyesel waktu smp kenapa gak mendalami programming(padahal waktu itu saya terkenal geek di sekolah) dan gak ikut olim komputer ,anyway thanks gan story nya

    ReplyDelete