Tuesday, 1 July 2014

Kisah Perjalanan di TOKI: Saya dan Pelatnas Kedua

Pelatnas 1 TOKI 2011

Setelah membangun tekad yang kuat, saya mulai berjuang kembali di Pelatnas 1 TOKI 2011. Suasananya tidak berbeda jauh dengan tahun lalu. Sayangnya tidak banyak veteran yang hadir, hanya ada Tracy, Hudi, Abit, Febrian, dan Reinhart. Sebagian dari mereka mengundurkan diri untuk alasan akademis. Selain itu, teman-teman Pelatnas 1 TOKI 2010 saya sudah menjadi asisten, di antaranya: Yozef, Martha, Roshyid, Mirza, dan Jordan. Rasanya lucu juga diasuh oleh orang yang dulunya adalah sesama peserta.

Namun, terdapat perbedaan drastis dalam diri saya. Pada tahun sebelumnya, Pelatnas saya suram. Kali ini tidak demikian, saya selalu berusaha menghabisi soal-soal yang dikeluarkan. Untungnya dengan peningkatan kemampuan selama ini, saya dapat menghadapi Pelatnas I dengan lancar.

Beberapa hal berkesan dalam Pelatnas I TOKI 2011:
  • Kini angkot sudah dicharter sesuai dengan jumlah peserta. Tidak ada lagi yang ditumbalkan :)
  • Tracy menjadi ketua kelas!
  • Tradisi nonton Spongebob dan Naruto masih berlanjut.
  • Perang susu Ultra masih berlanjut. Akhirnya pembagian susu didelegasikan kepada Tracy selaku ketua kelas.
  • Salah satu hari Sabtu bertepatan dengan final BNPCHS. Akhirnya para peserta yang lolos ke final berbondong-bondong ke BINUS. Terima kasih banyak buat Reinhart yang sudah mengkoordinir segalanya :)
  • Terdapat meja ping pong yang boleh digunakan. Meja itu terlihat agung, ada tulisan IOI, IBO, IMO, dan IAO pada masing-masing "kamar" pemain.
  • Terdapat ruang kelas yang boleh digunakan untuk belajar pada malam hari. Namun, akhirnya kita gunakan untuk bermain DoTA.
  • Sebelum simulasi 1 (seperti ujian), kita diberi makan banyak dan mewah. Ternyata soal simulasinya sangat sulit x(. Tidak ada bunyi ketikkan keyboard selama 1 jam pertama (mungkin karena tidak ada yang mendapat solusinya dan coding). Karena panik, nilai saya sangat buruk, yaitu ada di peringkat 22 dari sekitar 30 orang :(. Setidaknya dari sini saya belajar bahwa kepanikan dapat berakibat fatal.
  • Suasana pertemanannya lebih hangat, kita sering bermain DoTA, bernyanyi, melawak, dan makan-makan pada jam santai.

Akhirnya tiba saatnya pengumuman hasil Pelatnas. Saya cukup yakin bisa lolos ke Pelatnas 2, jadi yang saya lebih ingin ketahui adalah susunan peringkatnya. Susunan peringkat ini cukup penting, karena bisa saya gunakan sebagai referensi mengukur kemampuan lawan (saya bertekad menjadi anggota 4 besar TOKI!). Ternyata, saya muncul di peringkat 7. Tidak buruk, karena hitung-hitung masih termasuk dalam 8 besar dan kalau ini Pelatnas 2, berarti saya maju ke Pelatnas 3.

Cukup sedih ketika harus berpisah dengan beberapa teman hanya karena mereka tidak lolos ke Pelatnas 2. Ya, saya mengerti bagaimana perasaan mereka karena saya pun pernah mengalaminya. Saya tidak akan mengganggu mereka, dan akhirnya malam saya habiskan dengan bermain DoTA dengan Febry, Daniel, Felik, dan Leonard.

Ada satu kejadian yang sangat disayangkan. Pada saat pulang dari Bandung, saya naik travel. Dalam travel, saya tidur dan sempat terbangun karena belokan yang tajam sehingga barang-barang saya jatuh. Setelah membereskannya, saya kembali tidur. Setelah sampai, saya menyadari bahwa Rubik saya tidak ada! Kelihatannya jatuh di dalam travel dan saya tidak melihatnya. Sangat disayangkan karena Rubik itu sangat bersejarah, sudah saya poles, dan sangat ringan.

Kembali ke Sekolah

Pelatnas 1 selesai, saya kembali ke kehidupan biasa: kembali bergaul dengan mikroskop, jangka, asam, dan basa. Saya melewati hari-hari. Mengejar ketinggalan kali ini terasa lebih berat, karena bolosnya lebih banyak. Saya harus mengerjakan tugas proyeksi geometri yang seharusnya diselesaikan dalam 3 minggu menjadi dalam beberapa hari, dan saya benar-benar lelah! Akhirnya untuk pertama kali dalam hidup, saya meminum kratingdaeng. Efeknya langsung terasa dalam 2 tegukkan, rasanya seperti ada aliran energi dari minuman itu! Namun tenang saja, saya bukan pecandu minuman energi dan hanya menganggap mereka sebagai senjata dalam keadaan darurat.

Sebelum Pelatnas I berakhir, Karol menyatakan bahwa kita perlu mempelajari algoritma graf dan geometri sebagai bekal untuk Pelatnas 2 nanti. Berhubung saya belum familiar dengan geometri, maka saya menyempatkan diri untuk belajar aljabar linier (untuk keperluan vektor dan operasinya). Saya juga belajar algoritma seperti Dijkstra, Kruskal, dan Max Flow.

Pelatnas 2 TOKI 2011

Berikutnya datanglah surat kepada sekolah, yang isinya undangan saya menuju Pelatnas 2. Kali ini Pelatnas dilaksanakan di ITS, Surabaya. Saya pun segera memesan tiket bersama dengan Dikra, yang sama-sama dari Jakarta. Sebelum berangkat, bukannya saya belajar dan mempersiapkan diri malah jadinya mengerjakan video untuk penutupan acara besar di sekolah.

Suasana Pelatnas 2 terasa berbeda karena banyaknya pesertanya sudah berkurang. Meskipun begitu, Reinhart menyatakan bahwa Pelatnas 2 anggotanya paling pas, karena tidak terlalu banyak dan juga tidak terlalu sedikit.

Beberapa hal yang menarik di Pelatnas 2:
  • Selama latihan, tidak boleh diskusi. Jadi mulai setelah jam makan siang hingga sore kita harus mengerjakan latihan sendiri. Suasananya memang jadi lebih tegang dan dingin, tetapi saya merasakan beberapa manfaat. Salah satunya adalah kita lebih mengenal kemampuan diri sendiri, kuat lemahnya, dan bagian mana yang masih perlu ditingkatkan.
  • Pada minggu kedua, materinya adalah DP dan greedy. Kebetulan saya tidak ahli di bagian DP. Namun berkat sistem tidak boleh diskusi, secara ajaib saya bisa mendapatkan inti utama dari DP. Setelah menguasai inti utama itu, saya bisa menyelesaikan sebagian besar soal yang diberikan. Bisa dibilang saya "mendadak" lancar DP.
  • Selama minggu kedua, materinya berselang-seling antara DP, greedy, lalu DP lagi, dan seterusnya. Selama materinya DP, penduduk tingkat atas adalah Jessica dan Reinhart. Sementara untuk materi greedy, penduduk tingkat atasnya adalah Febry dan Daniel. Jadi selama minggu itu sangat tertebak siapa yang akan ada di peringkat atas :))
  • Pada minggu ketiga, materi diisi oleh Steven Halim dan Felix Halim. Pertama kalinya saya bertemu mereka setelah sekian lama membaca buku Competitive Programming tulisan mereka. Saya pun meminta tanda tangan mereka di buku CP yang saya miliki (diberikan ke seluruh peserta OSN 2010), dan meminta tanda tangan memang sudah saya rencanakan sejak sebelum Pelatnas :)
  • Salah satu soal yang diujikan adalah heuristic search, dengan algoritma A*. Ketika soalnya dikeluarkan, saya menghabiskan waktu berjam-jam untuk memikirkannya. Akhirnya saya menjadi satu-satunya peserta yang mendapat nilai 100 untuk soal itu. Felix Halim pun memberikan hadiah berupa pen mewah kepada saya :)
  • Pak Rully ulang tahun! Akhirnya kami merencanakan untuk memberi kejutan berupa menulis ucapan melalui klarifikasi (tokilearning). Jadi orang pertama akan menulis 'Y', lalu orang kedua 'A', lalu 'D', lalu 'H', dan seterusnya hingga bila dibaca dari atas, tertulis "HAPPY BIRTHDAY". Untuk memulainya diperlukan aba-aba, dan karena tidak boleh diskusi kami bingung bagaimana memberikan aba-abanya. Akhirnya Reinhart selaku ketua kelas memberi ide bahwa dia akan keluar, lalu masuk lagi dan mengatakan "yu". Hasilnya? Sukses :))
  • Ada insiden "nasi goreng".
  • Nilai sehari-hari saya stabil, sekitar peringkat 4-7 untuk setiap harinya.


Saya dan Felix Halim

Tiba juga saatnya pengumuman hasil Pelatnas. Untuk pengumuman kali ini, kita diberikan matriks berisi huruf-huruf, dan diminta mencari nama kita di dalam matriks tersebut! Wah kejam juga cara pengumuman begini. Setelah mencari-cari, saya tidak juga menemukan nama saya. Tiba-tiba seseorang menyeletup dan mengaku telah menemukan nama saya. Ternyata benar! Ada nama saya di sana! Bentuk matriks itu kurang lebih seperti ini (dari blog Rasmunandar Rustam):


Rasanya benar-benar lega setelah mengetahui saya lolos ke Pelatnas 3, berhubung kalau melihat hasil sebelumnya posisi saya belum sepenuhnya aman.

Kemudian dibacakan ranking para peserta mulai dari bawah ke atas. Hasilnya, saya muncul di peringkat 2! Bagaimana mungkin!? Ternyata setelah diperhatikan lagi, nilai saya yang stabil menghasilkan nilai akhir yang lebih baik, ketimbang kadang bagus kadang tidak. Mungkin bisa dibayangkan seperti selalu mendapat nilai 7 atau 8 dibanding kadang 10 kadang 4 (Anda dapat hitung rata-ratanya, lebih baik yang 7 atau 8 bukan?).

Setelah itu saya menghadiahkan diri dengan bermain DoTA semalaman, seperti biasa. Kali ini ditemani juga dengan susu ultra coklat ukuran besar yang saya minum sampai mabuk.

Oh ya, saya juga menghadiahkan diri untuk membeli Rubik yang baru, original merek Rubik's yang rencananya mau saya gunakan untuk selamanya sebagai pengganti yang hilang.

Rasanya senang sekali bisa masuk ke Pelatnas 3, yang artinya selangkah lebih dekat menuju IOI. Apalagi setelah mendapatkan peringkat 2, saya semakin percaya diri bisa masuk dalam 4 besar. Untuk seterusnya, saya harus belajar lebih giat dan mengamankan posisi!

Sekuel kisah perjalanan di TOKI:

No comments :

Post a Comment