Sunday, 3 August 2014

ACM ICPC 2014 World Final - Ekaterinburg (Bagian 3)

Pastikan Anda membaca juga bagian 1 dan bagian 2.

Hari 8

Pagi ini saya telat bangun, dan dibangunkan oleh Aji jam 7. Kami segera turun dan sarapan. Keadaan sudah berubah, ruang makan sangat sepi. Barangkali para peserta masih tidur.

Setelah selesai sarapan, saya memutuskan untuk membagi-bagi suvenir kepada para orang-orang baik, yaitu mereka yang ramah atau sudah bekerja keras, seperti tim ICPC lain dan panitia. Suvenir ini sebenarnya sisa suvenir saat IOI, yang bentuknya pembatas buku dan gantungan kunci wayang. Sebenarnya saya sudah ingin membagikannya kemarin, tetapi tidak kesampaian karena kita tidak ikut acara penutupannya sampai selesai. Pagi ini, hanya ada 4 orang panitia yang terlihat di hotel. Saya membagikan 1 kepada panitia helpdesk yang sudah datang dari pagi, dan dia sangat senang. Dia bahkan meminta saya menuliskan pesan di balik suvenir yang saya bawa. Saya mencoba menitipkan suvenir itu kepadanya untuk diberikan kepada Vika, sayangnya dia tidak mengenal Vika.

Selanjutnya saya nongkrong di lobi hotel, berharap ada orang yang pantas diberikan suvenir lewat. Ketika ada tim dari Afrika selatan (University of Capetown), saya memutuskan untuk memberikan suvenir kepada mereka, karena mereka gaul dan baik. Oh ya, mereka itu bule, bukan orang Afrika asli. Selanjutnya saya membagikan suvenir kepada panitia yang membantu dalam mobilisasi, dan untungnya dia mengenal Vika. Saya menitipkan suvenir itu sekaligus memberikannya suvenir.

Kasihan bule yang satu ini, kakinya terlalu panjang

Sesampainya di bandara Ekaterinburg, saya juga membagikan suvenir kepada panitia yang berjaga di sana. Karena rasanya tidak ada panitia lagi yang akan ditemui, maka saya menghibahkan seluruh suvenir yang tersisa kepada mereka untuk dibagikan kepada para panitia lainnya. Saya sangat ingin mereka menerima suvenir-suvenir ini, karena saya tahu mereka sudah bekerja sangat keras untuk melaksanakan kegiatan ini.

Pesawat kami berangkat jam 12.20, dan selama menunggu kami berdiskusi soal-soal kemarin dan strategi untuk tahun depan (tentunya dengan tim yang berbeda). Setelah melalui perjalanan panjang dengan pesawat, kereta, dan subway, akhirnya kami sampai di hotel. Hotel ini di Tverskaya, dekat dengan pusat kota. Bila Anda melihat peta yang pernah saya tunjukkan di posting bagian 1, Tverskaya ada di pojok kiri atas. Tempat ini banyak restoran dan pertokoan.
Suasana di jalan Tverskaya

Di hotel ini, Pak Denny bertemu 2 bule tua dari Australia dan mengobrol dengannya. Hasilnya, didapatkan beberapa informasi penting untuk kegiatan di hari itu dan esok. Kita diberi tahu tempat membeli oleh-oleh yang murah dan tempat makan yang oke. Ternyata, tempat itu ada di bawah tanah Red Square! Lebih mengejutkannya lagi, tempatnya adalah sebuah mall! Saya benar-benar tidak menyangka terdapat mall di bawah tanah itu!

Ingat kubah-kubah yang saya foto pada pertama kali jalan-jalan di Red Square? Inilah bagian bawahnya!

Karena makan siangnya kurang puas (di pesawat), kami makan malam dulu. Saya dan Pak Denny makan baked potato yang sebelumnya tidak kesampaian dibeli, Ashar Aji makan makanan nasi + ayam yang halal. Ada insiden bahwa Aji terasa seperti dirampok, karena salah membaca daftar harga. Ayam yang dibeli harganya per gram, bukan per potong. Hasilnya, Aji harus mengeluarkan 1000 Rub untuk membayarnya! Oke, makanan itu banyak, dan dibungkus untuk makan di hari esok. Kata Ashar "Ji lu bayar 1000 Rub, tapi itu ammortized karena besok-besok lu nggak beli makan lagi". Setelah puas makan, kami ke tempat membeli oleh-oleh yang ternyata memang lebih murah. Barang-barangnya juga sangat bagus! Uang saya habis setelah membeli oleh-oleh ini.

Selesai membeli oleh-oleh, Ashar dan Aji ingin pergi ke toko buku. Saya dan Pak Denny pergi ke taman Gorky. Kami naik Metro dan berjalan kaki ke sana. Taman ini ternyata sangat besar. Saya terkagum-kagum dengan kemegahan taman ini. Lingkungannya benar-benar luas, rapi, hijau, dan indah. Ada banyak pohon besar, bunga berwarna-warni dan tertanam rapi, air mancur, kolam, lengkap dengan bebek-bebeknya. Banyak orang yang bersantai di taman ini, berpacaran, berolahraga, rekreasi keluarga atau bergaul. Ada banyak pilihan kegiatan yang bisa dilaksanakan di taman ini. Lalu apa yang membuat taman ini menjadi sempurna? GRATIS. Benar-benar terharu dengan keadaan taman ini yang begitu indah!

Sepertinya taman ini sebesar Kebun Raya Bogor

Bantalan gratis. Kalau di Indo mungkin sudah dicoret-coret atau dicuri

Sama juga dengan pisang-pisangan ini

Saya terjebak di pisang-pisangan (difoto Pak Denny). Ternyata memang didesain untuk pasangan :')

Sebuah array meja ping-pong

Lapangan voli pantai

Kolam bebek, ada angsa, mallard, dan jenis bebek lainnya. Bisa diberi makan layaknya ikan koi

Tempat orang gaul. Di Dago Bandung juga ada tempat seperti ini, tetapi SAMPAHNYA BERSERAKAN

Bokkep, dijual terang-terangan (oke saya tidak tahu arti Bokkep, itu dalam bahasa Russia)

Tidak terasa saya dan Pak Denny sudah berjalan-jalan selama 2 jam di taman itu. Kami kembali ke Tverskaya naik Metro, dan ternyata hari mulai gelap. Gedung teater Bolshoi mulai menyalakan lampunya dan terlihat menjadi lebih megah. Saya mengambil beberapa foto, lalu kembali ke hotel. Hari esok merupakan hari terakhir di Russia. Saya ingin menghabiskan waktu tersebut dengan baik :)
Teater Bolshoi

Hari 9 - 10

Tanpa disadari, berjalan-jalan di taman Gorky sangat melelahkan. Pagi saya bangun jam 7, dan kaki saya masih pegal-pegal. Karena sarapan tidak disediakan dari hotel, kami masak nasi, mie instan, dan ayam Aji. Kami juga mendapat sumbangan susu dan jus dari 2 orang Australia yang mau meninggalkan hotel dan barang-barangnya terlalu berat.
Sarapan dengan "masakan" sendiri

Setelah selsai makan, kita mendiskusikan apa yang mau di lakukan pada hari terakhir ini. Yang pasti, pukul 18.00 kita sudah harus kembali ke hotel, mengambil barang, dan pergi ke bandara. Kebetulan hari itu hari Jumat, sehingga Ashar & Aji ingin sholat jumat dan memutuskan untuk mengunjungi mesjid di Moscow. Sementara itu, Pak Denny ingin masuk ke dalam Kremlin, setelah mendengar informasi dari 2 orang Australia itu. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut Pak Denny berjalan-jalan di Kremlin.

Jam 10.15 kami berangkat dari hotel, berjalan kaki ke Red Square yang tidak jauh dari hotel kita (Tverskaya). Kami mencari-cari pintu masuk Kremlin yang katanya tidak terlihat secara langsung, dan akhirnya berhasil. Harga masuknya 350 Rub, boleh lah untuk perjalanan yang sangat jarang dilakukan ini.
Pintu masuk Kremlin

Di dalam Kremlin, ada beberapa gedung pemerintahan (konon katanya Pak Presiden ada di sana) dan museum yang bentuknya gereja. Ada juga armory, yaitu pameran persenjataan Russia zaman dulu. Namun kita tidak pergi ke armory, karena harganya 700 Rub dan terlalu mahal!

Sepanjang berjalan-jalan di Kremlin, saya melihat relik zaman dulu yang berhubungan dengan agama Katolik. Saya bukan orang Katolik, sehingga tidak terlalu paham dengan apa yang saya lihat. Yang pasti, mengunjungi objek seperti ini menambah pengalaman saya, setelah berkunjung ke rumah ibadat Buddhis (IOI 2011) dan Mesjid agung di Kuala Lumpur (ICPC 2011). Banyak juga orang-orang tua yang ikut dalam tur, sebagian orang asia timur (orang Cina, Korea, Jepang), dan sisanya bule dari berbagai tempat. Saya menguping tour guide yang berbahasa Mandarin, dan mulai mengerti tentang apa yang ada di dalam sana.

Selain gereja, ada juga pameran meriam zaman Napoleon yang sangat banyak (mungkin ribuan), ditempatkan mengelilingi gedung pemerintahan. Tentu saja, meriam ini sudah tidak aktif lagi. Ada sebuah meriam induk yang luar biasa besarnya, jauh lebih besar dari meriam si jagur yang digunakan untuk melawan VOC di Museum Fatahillah. Bayangkan saja, 3-4 orang dewasa bisa dimuatkan ke mulut meriam itu!

Beberapa saat sebelum keluar Kremlin, ada konvoi mobil yang banyak. Menurut informasi yang saya "kupingi" dari orang-orang sekitar, ada Pak Presiden di dalam salah satu mobil itu. Hmm lumayan juga, setidaknya saya bertemu dengan Pak Presiden Russia meskipun tidak secara langsung.

Meriam Napoleon

Meriam raksasa

Kompleks museum di Kremlin. Tidak boleh foto barang-barang di dalamnya, sehingga hanya saya foto dari luar

Bel Tsar yang terkenal dengan retakannya

You have one job

Pasukan pengaman presiden (?)

Selesai berkeliling di Kremlin, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Saya dan Pak Denny mencari makanan di food court dekat Red Square. Ternyata, food court ini menyambung ke mall bawah tanah yang sebelumnya saya makan baked potato di sana. Setelah melihat-lihat dan khawatir "dirampok" seperti Aji, kita memutuskan untuk mencari makanan yang lain. Kebetulan juga Pak Denny ingin mencoba makanan lokal, dan saya sudah melihat banyak toko roti di Moscow. Bisa jadi roti adalah makanan lokal mereka. Sehingga kami pergi ke toko roti terdekat yang tidak jauh dari mall bawah tanah.

Harga rotinya cukup terjangkau, sekitar 30-45 Rub. Ukurannya juga cukup besar. Kami mencoba roti isi daging yang rasanya sangat lezat! Rotinya pipih, hangat, lembut, dan rotinya saja sudah enak. Begitu masuk ke bagian isinya, ada krim, keju, dan daging di dalamnya. Hmm roti ini mungkin roti terlezat yang pernah saya nikmati! Kami membeli beberapa roti lagi supaya bisa dianggap sebagai makan siang.

Roti murah dan enak, ibu-ibu penjualnya juga ramah lho

Pengamen di Moscow, memainkan lagu "Spring Symphony"

Selesai "makan siang", kami berencana berjalan-jalan di kawasan elit Moscow, yang tidak jauh dari Red Square. Saya lebih banyak melihat gedung-gedung dan penduduk lokal sambil duduk di kursi chillin', sambil bersitirahat sesudah berjalan jauh. Karena tidak terlalu ada arah, akhirnya kami memutuskan pergi ke Red Square lagi dan berfoto-foto di depan gereja St Basil. Kami juga masuk ke dalam mallnya, yang isinya sangat memukau. Ada banyak bunga-bunga di tepi railing, atap tembus pandang yang bisa dilalui sinar matahari, air mancur "synchronized" yang menampilkan pertunjukan, dan struktur yang sangat rapi. Pemandangan seperti ini rasanya tidak akan pernah saya temukan di Indonesia! Kami masuk ke beberapa toko yang terlihat lucu, dan melihat-lihat. Tidak terasa waktunya sudah 17.30, dan kami harus bertemu dengan Ashar & Aji di teater Bolshoi.

Mall yang melelehkan hati

Suasana dekat teater Bolshoi di sore hari

Pukul 18.00, kami berangkat dari hotel ke stasiun kereta yang disebut Ashar/Aji "Manggarai". Kami naik kereta ekonomi ke arah bandara. Pukul 20.25, kami sampai di bandara Domodedovo. Sambil menunggu penerbangan, kami bersitirahat karena sudah seharian berjalan-jalan. Penerbangannya jam 1.00 (pagi), dan sepanjang di pesawat saya tidur, makan, atau menonton film "the incredibles". Kami sampai di Dubai jam 07.00. Sambil minum kopi/cokelat di bandara, kita berpisah dengan Ashar yang terbang ke San Fransisco untuk magang. Saya tidur sepanjang menunggu penerbangan berikutnya, yaitu jam 13.00.

Stasiun kereta api

Kereta ekonomi

Penerbangan terakhir berangkat dari Dubai ke Jakarta. Sepanjang penerbangan, saya dan Aji bermain game aneh-aneh yang ada di layar hiburan. Ada game tembak-tembakan yang ternyata cukup menyenangkan. Penerbangan yang berlangsung selama 7 jam ini akhirnya berakhir dan kami sampai di Soekarno Hatta.

Nonton Spongebob episode yang belum saya tonton

Penutup

Terkualifikasi ke World Final ACM-ICPC merupakan mimpi kampus UI selama 15 tahun terakhir, dan akhirnya tersampaikan. Kami memang tidak menduduki peringkat yang bagus, dan performa kita tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan tim unggulan. Namun perjalanan ini telah membukakan pintu, dan menjadi suatu titik penting. Jika saya memandang perjalanan 3 tahun terakhir di ACM-ICPC, performa UI terus meningkat. Dibarengi dengan performa Indonesia di IOI dan APIO yang terus meningkat, saya percaya suatu saat nanti akan tiba saatnya Indonesia menjadi tim unggulan dalam kompetisi semacam ini. Memang benar, kita sedang dalam masa perkembangan :)

Perjalanan ke Moscow dan Ekaterinburg ini juga telah membuka pikiran saya, tentang seberapa "jauhnya" Indonesia dari sebuah negara. Banyak faktor yang membedakan bagaimana Indonesia masih tetap seperti ini-ini saja, tanpa banyak berubah. Mentalitas bangsa ini masih jauh dari baik. Barangkali, ini disebabkan karena mereka yang kurang berpendidikan. Jika memang begitu, maka tugas kita lah yang berpendidikan untuk memberikan pendidikan dan contoh yang baik kepada masyarakat Indonesia.

Generasi muda, ingat bahwa waktu kalian memimpin sudah hampir tiba. Lakukan kontribusi di bidang apapun yang kalian suka, dan pandu bangsa Indonesia untuk lepas dari kebobrokan ini.

Salam sejahtera!

Foto oleh Bob Smith

No comments :

Post a Comment