Thursday, 16 October 2014

IOI 2011 - Pattaya, Thailand (Bagian 1)

Akhirnya tiba saatnya untuk menyelesaikan "perjalanan akhir" yang dimulai sejak OSK. Sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi ingatan saya akan IOI ini masih melekat. Memang, seperti kata teman-teman IOI 2011, IOI ini merupakan salah satu yang paling berkesan.

Tulisan ini akan membahas hari-hari saya di Thailand saat IOI 2011. Untuk foto-foto, saya tidak banyak mengambil momen karena masih belum sadar bertapa pentingnya momen tersebut :') oleh karena itu saya mengumpulkan foto dari berbagai pembina TOKI, Brian, Jessica, guide di sana, dan foto saya sendiri. Dengan tulisan ini, lengkaplah tulisan IOI 2011 dari sudut pandang empat besar TOKI 2011, karena saya yang terakhir menulis tentang ini.

Keadaan

Anggota tim yang berangkat:
  • Bu Inge - delegation leader
  • Pak Rully - deputy leader
  • Gang of Four (GoF) - contestant (termasuk saya)
  • Brian - guest (membantu anggota delegasi)

Di samping itu, akan ada sejumlah "bonek" yang menyusul ke Pattaya. Kabarnya, terdapat puluhan! Berhubung IOI di Thailand, biayanya tidak terlalu mahal. Lagipula, mereka yang datang sebelumnya telah mendapat gaji karena telah kerja rodi mengoreksi OSP, jadi biayanya sudah disubsidi.

Di Thailand, bahasa yang digunakan adalah Bahasa Thai. Aksaranya bukan menggunakan karakter latin, melainkan seperti aksara Jawa. Tidak banyak orang Thailand yang bisa berbicara Bahasa Inggris. Jelas, ketika di sana kami menjadi buta huruf dan terpaksa berkomunikasi dengan bahasa tubuh.

Mengenai makanan, Thailand menjadi surga bagi saya. Mereka makan makanan laut dan macam-macam buah. Contoh makanan yang terkenal di sini adalah Tom Yam (sup seafood asam pedas), Pad Thai (seperti kwetiaw), Som Tam (seperti rujak), dan ayam balut pandan. Saya sudah mengidamkan makanan-makanan ini bahkan sebelum berangkat IOI!

Mata uang Thailand adalah Baht, 1 Baht setara dengan sekitar Rp 350,00. Namun ketika menerima uangnya, saya melihat angka yang tertera bukan angka Arab (1, 2, 3, ...) lalu dengan polosnya bertanya "ini basis berapa???". Syukurlah, mereka menggunakan basis 10.

Hari 0

Pagi itu saya telat bangun! Untungnya karena sudah beres-beres, saya tinggal sarapan, lalu berangkat ke bandara. Untuk penerbangannya, kita menuju ke Bangkok langsung tanpa transit dengan pesawat Garuda. Pengalaman naik pesawat ini agak berbeda rasanya, karena ada layar hiburan di depan kita. Maklum, penerbangannya 5 jam sehingga kalau tidak ada hiburan nanti penumpangnya kebosanan. Di layar itu, saya nonton film dan mendengarkan lagu-lagu dari album Nidji berkali-kali. Sebelum pesawat mendarat, Pilot memberikan pengumuman bahwa ada tim Indonesia yang akan bertanding di IOI, dan memberi semangat bagi kami :')

Kita sampai di bandara Suvarnabhummi, Bangkok. Langsung menemukan panitia IOI dan diatur untuk transportasi ke Pattaya. Transportasinya dengan bus, dan memakan waktu cukup lama. Saya tidur sepanjang perjalanan itu.

Akhirnya kita sampai di hotel Royal Cliff, Pattaya. Hotelnya terletak di pinggir pantai, jadi bisa langsung turun ke pantai. Kami juga langsung disambut oleh guide yang akan mendampingi kontingen Indonesia selama di IOI. Guide kita ternyata orang Indonesia! Nona itu namanya Yura, sedang kuliah di Thailand. Dengan demikian, masalah komunikasi teratasi, berhubung bahasa Inggris saya belum lancar. Ada satu lagi, yaitu namanya Yegar. Dia bukan guide suatu negara, tetapi seorang panitia yang memandu para anggota delegasi.

Royal Cliff Hotel (foto oleh pembina TOKI)

Kami mengisi formulir registrasi ulang dan mendapatkan barang-barang IOI, seperti ransel, kaos 3 stel, payung, flash disk, dan peralatan bertahan hidup lainnya. Kami juga mendapatkan welcome drink berupa minuman ekstrak rumput yang rasanya lucu. Untuk pembagian kamarnya, saya sekamar dengan orang Vietnam. Setiap kamar kapasitasnya 2 orang, dan karena pada empat besar kali ini ada 1 wanita (Jessica), kita tidak bisa sepenuhnya sekamar dengan sesama orang Indonesia. Kebetulan Vietnam juga memiliki komposisi yang sama (3 pria + 1 wanita). Akhirnya saya dipasangkan dengan 1 pria Vietnam, Jessica dengan 1 wanita Vietnam, dan sisanya sekamar dengan teman dari negaranya (yaitu Reinhart dan Hudi).

Saya belum pernah bertemu dan berbicara dengan orang asing, dan mulai menyiapkan skenario berkenalan. Ketika mau masuk, kamar pintu saya terkunci x(. Ternyata teman sekamar saya sedang mandi, dan pintunya dikunci dengan rantai dari dalam. Akhirnya saya tunggu di luar sampai dia selesai mandi. Pintu dibukakan dan saya masuk untuk berkenalan. Bahasa Inggris orang Vietnam agak sulit saya cerna. Nama dia adalah Linh, dan sepertinya anaknya alim.

Pemandangan dari balkon hotel

Setelah berberes-beres, saya dan empat besar lainnya turun untuk berjalan-jalan di sekitar hotel. Kami bertemu banyak orang bule dan "tenggelam" di antara mereka. Kalau sudah desak-desakan, saya sulit menemukan di mana Jessica dan Hudi. Hanya Reinhart yang menjadi "normal" karena tinggi badannya > 180cm.

Mampir ke pantai di bawah hotel (foto oleh Jessica)

"Foto Galau" kata Jessica (foto oleh Jessica)

Makan malam tiba, kami turun ke bawah dengan elevator. Saat elevator terbuka, tepat di depan kita munculah Gennady Korotkevich, yang menjadi pertama kalinya saya bertemu dengan dia. Untuk makan malam, saya mengharapkan ada seafood yang banyak. Kenyataannya? Makanan barat! Di mana-mana pasta, dan hanya ada sedikit nasi. Sepertinya panitia tidak ingin membuat bule-bule itu kaget, dan menyajikan makanan barat di hari-hari awal. Kami semeja dengan orang dari Moldova, dan berbicara seenaknya berhubung mereka tidak mengerti apa yang kita bicarakan.

Hari esok adalah pembukaan dan practice session. Saya beristirahat lebih awal supaya stamina tetap terjaga.

Hari 1

Pagi ini saya bangun dan langsung sarapan. Suasana semakin ramai karena seharusnya orang-orang sudah berdatangan. Saya bertemu dengan anggota empat besar lainnya dan Yura, lalu kami sarapan sambil mengobrol. Selanjutnya acaranya adalah pembukaan. Kami menuju aula yang letaknya tidak jauh dari lobi hotel sambil berfoto-foto dengan lingkungan sekitar.

Full team

Acara pembukaan diisi dengan sambutan dari petinggi IOI dan Thailand. Bahasa Inggris saya tidak begitu bagus, dan kurang mengerti apa yang mereka bicarakan. Selanjutnya kami diputarkan video yang menggambarkan tentang Thailand (semacam video untuk tourism). Saya terharu ketika menonton video ini, baru saya sadari bahwa saya mendapatkan kesempatan untuk bertanding di luar negri mewakili Indonesia, apalagi jika melihat masa-masa saya baru belajar untuk OSK. Hingga saat ini (2014), menonton video itu mengingatkan saya pada perasaan tersebut. Acara juga diisi dengan penampilan lenong (?) Thailand yang dimainkan tanpa bicara tentang kisah Hanoman, acapela yang suaranya super indah, dan atraksi Thai-boxing.

Video turisme Thailand yang sangat bagus :')

Atraksi Thai-boxing

Selanjutnya, kami pergi ke ruang practice session. Saya berusaha menyesuaikan jari-jari dengan keyboard yang digunakan, memeriksa kecepatan server, dan sebagainya. Saya juga mengamati kontestan-kontestan lain, dan melihat ada bocah Armenia yang rumornya berusia 13 tahun. Puas practice session, kita kembali ke hotel.

GoF saat practice session

Bocah Armenia

Kita diajak untuk pergi jalan-jalan oleh panitia yang bukan guide kontingen. Kalau tidak salah, waktu itu kebetulan Jessica dan orang tuanya ingin pergi ke suatu tempat. Panitia ini cukup gila, dan memang "gila". Saya ingat nama-nama mereka, ada yang namanya Ping, Prop, dan Anna. Mereka hiperaktif dan sepertinya sudah tugas mereka untuk membuat suasana lebih menyenangkan. Sambil naik mobil, kami melihat ada banci-banci Thailand di jalan/kafe sedang melakukan aksinya dan para panitia hiperaktif itu bilang "NO YOU DON'T SEE ANYTHING" sambil mencoba menghalangi pandangan kita. haha mungkin aksi banci itu ekstrim.

Jalan-jalan!

Kami mampir ke suatu mall, melihat-lihat dan jalan-jalan. Kemudian kita tiba di suatu pantai dan melihat-lihat saja. Setelah puas, kita kembali ke mobil, bersama panitia hiperaktif. Kembali ke hotel, alat komunikasi kita "disita" oleh Yura. Malam ini seluruh peserta diisolasi, tidak ada koneksi komunikasi elektronik. Penjagaannya cukup ketat. Saya langsung tidur, berhubung besok adalah hari pertandingan yang pertama.

Hari 2

Pagi ini saya sudah bangun sekitar jam 6.00. Bereberes diri dan mempersiapkan mental. Saya juga membawa dark chocolate 99%, yang kata Yura rasanya "kayak makan buah cocoa beneran". Saya tidak makan terlalu kenyang, takut ngantuk. Minum juga tidak banyak, takut sering ke-WC. Oke, saya agak paranoid.

Ketika kami memasuki ruang kontes, ada miskom entah apa, yang mengakibatkan makanan cemilan saat kontes kita belum ada. Tanpa itu, kita tidak boleh masuk ruang kontes! Akhirnya Yura membantu menyelesaikan urusannya, dan kami boleh masuk. Begitu saya duduk, langsung terdengar "contestant, you may begin!". Saya langsung buru-buru membuka soal dan membaca. Ada tiga soal, race, ricehub, dan garden. Soal yang saya mulai saya kerjakan dulu adalah ricehub.

Soal ini sangat familiar dengan saya, dan saya berpikir untuk mengerjakannya dengan binary search. Lewat 40 menit waktu kontes dimulai, saya mulai coding untuk soal ricehub. Namun nilai terus nol! Oh ya, zaman saya ini kita masih menggunakan token untuk melihat feedback resmi dari grader. Hanya ada 3 token per soal, dan regenerasinya setiap 30 menit (maksimal 3 token). Namun ada bug! Token saya terus beregenerasi tanpa batas, sehingga saya menggunakannya tanpa sayang.

Waktu terus berlalu, dan saya cukup stress karena tidak AC soal itu. Sudah sampai 3 jam, akhirnya saya menyadari hal bodoh yang sudah saya lakukan. Saya terlalu terburu-buru, tertekan oleh mental, dan tidak bisa berpikir jernih. Seharusnya saya menggunakan waktu beberapa menit untuk istirahat mental di awal, baru mulai dan bisa maksimal. Sungguh disayangkan bahwa waktu saya tinggal 2 jam. Sejak itu, saya makan cokelat, dan berpindah ke soal garden. Soal race saya kerjakan terakhir. Hasilnya? Nilai saya hanya 92 dari 300! Saya ada di peringkat 158 - 178, yang artinya berada di luar zona medali perunggu. Yang lainnya? Hudi ada di peringkat 79-99, Jessica dan Reinhard di peringkat 117-145. Saya sedih, karena hanya mengemis nilai dengan brute force. Rasanya kemampuan yang saya keluarkan ini tidak 100%. Saya lemas, makan pun lemas, dan pergi ke tempat sepi untuk memulihkan jiwa.

Sorenya kami pergi ke internet zone, suatu tempat dengan banyak laptop dan ada wifi. Kami menghubungi keluarga lewat wifi itu dan berselancar di internet. Tiba-tiba kami melihat Edward, bocah Armenia itu. Jessica mengajak dia bermain typeracer, dan dia setuju. Yah, Jessica dan Reinhart jelas menang karena kecepatan mengetik mereka yang luar biasa. Setelah dikalahkan habis-habisan, Edward pergi. Yah setidaknya ada kesempatan bagi kami untuk bermain dan bersosialisasi dengan kontestan unik itu.

Malamnya kami diajak berkumpul dengan para pembina dan mengobrol. Saya mengutarakan masalah saya tadi siang, dan diminta oleh pembina untuk tidak mengkhawatirkan hal tersebut. Saya juga tahu, sudah banyak alumni TOKI yang hari pertamanya hancur, tetapi berhasil balas dendam di hari kedua untuk mendapatkan perak/emas. Meskipun saya tidak setangguh mereka, tetapi saya akan berusaha sebaik mungkin.

Saat kembali ke kamar, saya berdiam diri, mungkin meditasi. Akhirnya saya mencapati titik terang (tertidur), dan berhasil mengalahkan diri sendiri untuk lepas dari beban mental dan kerusakan di hari pertama ini. Hari esok adalah excursion, yang akan saya manfaatkan juga untuk menghilangkan pikiran buruk ini.

Hari 3

Pagi-pagi kami naik bus, dipandu oleh ibu-ibu Thailand yang bahasa Inggrisnya sangat bagus (mungkin memang tour guide profesional). Namanya JJ, dia mengaku namanya sulit disebut sehingga cukup panggil inisialnya saja. Kami diberikan sapu tangan berwarna biru, dan diminta untuk mengikatnya di salah satu anggota tubuh kita supaya bisa diidentifikasi sebagai anggota dari bus JJ. Kami sepakat untuk mengikatnya dengan gaya orang Padang, yaitu di kepala.

Gaya Padang

Entah bagaimana caranya kita menjadi akrab dengan tim dari India dan guide mereka yang bernama Wandee (keturunan orang Thailand dan India, besar di Thailand). Saya bertanya banyak soal tumbuhan dan filosofi patung/monumen di sana kepada Wandee. Udara di taman ini sangat lembab, meskipun cuacanya agak mendung. Hal ini membuat saya sulit bernafas.

Suasana Taman Nong Nooch

Kami jalan-jalan melihat taman ini yang sangat indah. Apalagi saya besar di kota Jakarta, jarang melihat tetumbuhan di tempat yang luas. Ada replika stonehenge dan beberapa landmark di dunia. Oh ya, Reinhart juga memanjat bukit bebatuan di sini dan berfoto dengan gaya mantap.

King of the hill

Siangnya, kami makan siang di suatu restoran. Meja makannya besar, sehingga kita semeja dengan orang-orang dari Albania. Salah satu dari mereka bertanya "do you know how to use this stuff?" sambil menunjukkan sumpit di tangannya. Saya mengajari mereka menggunakan sumpit (padahal makanan yang mereka makan adalah nasi, berkuah). Respon mereka terhadap sumpit lucu sekali, sepertinya mereka menjadi kagum dengan sumpit. Saya menyaksikan salah satu mereka mengambil sekumpulan sumpit dari meja buffet dan memasukkannya ke tas. Sumpit yang dia gunakan juga dibersihkan, lalu dimasukkan ke tas. "I bought it", katanya (??).

Selain sumpit, kita juga berbincang-bincang soal negara masing-masing. Salah satu dari mereka yang bernama Mikele bertanya "do you know where Albania is?". Wah gawat, saya tidak tahu! "It is near Italy", kata Reinhart. Wah untung saja ada yang tahu. "Do you know where Indonesia is", Reinhart balik bertanya. "I know, it is the islands above Australia" kata Mikele. Perbincangan pun berlanjut seputar kontes di hari sebelumnya. Oh ya, makan siang ini sudah mulai ada unsur Thailand-nya, karena sudah ada Tom Yam. Rasanya ENAK sekali, tapi saya tidak berani makan banyak karena besok masih ada hari kontes. Kalau perut saya kenapa-kenapa nanti gawat.

Selesai makan siang, kami pergi untuk menonton pertunjukkan. Ada pertunjukan gajah, wayang (?), tarian, dan thai boxing. Sangat menghibur, kira-kira setara dengan pertunjukkan Barong di Bali.

Thai-boxing yang hampir sangat nyata

Kami juga menyaksikan pertunjukkan gajah di luar ruangan, dan Reinhart mengajukan diri sebagai sukarelawan untuk pertunjukkan. Lihat saja apa yang dilakukan si gajah:

Reinhart selamat, tanpa terluka sedikitpun

Setelah selesai pertunjukkan, kita kembali ke hotel Royal Cliff. Di sana sudah ada macam-macam kegiatan yang disebut "variety for fun". Panitia hiperaktif kembali beraksi lagi. Permainannya ada main bola dengan mulut (ditiup atau dilepeh! bolanya bola pingpong), melukis figurin, membuat lilin, menulis nama dalam aksara Thailand di gantungan kunci, dan macam-macam aktivitas lainnya. Poin yang menjual dari aktivitas ini adalah panitia hiperaktifnya, mereka sangat menghibur kita, dan saya sangat senang dengan aktivitas ini.


Beragam aktivitas di acara variety for fun

Selesai dari acara variety for fun, kami kembali ke hotel dan bertemu dengan para bonek. Kebetulan ke Thailand tidak perlu visa, dan para bonek (alumni TOKI) ini baru saja mengoreksi OSP, lalu gajinya digunakan untuk pergi ke Thailand. Kita berfoto-foto, dan mereka memberikan kita semangat, berhubung besok adalah hari penentuan.

Bersama para bonek

Setelah itu alat komunikasi kembali "disita" oleh Yura. Saya membangun kepercayaan diri dan bermeditasi kembali, lalu tidur.

Sekuel kisah perjalanan di TOKI:

No comments :

Post a Comment