Saturday, 11 October 2014

Kisah Perjalanan di TOKI: Persiapan IOI

Masa Rehat

Kembali dari Pelatnas, saya menghadiri acara kelulusan sekolah. Secara tidak menyangka pula saya mendapatkan nilai ujian yang memuaskan, setelah berjuang belajar kilat selama dua minggu seusai Pelatnas 2. Saya juga dikejutkan dengan pengumuman SNMPTN undangan bahwa saya TIDAK DITERIMA. Oke, saya harus belajar untuk SNMPTN tertulis :'(

Saya mulai membeli buku sejenis kumpulan soal untuk SNMPTN dan belajar kembali, padahal dikira sesudah ujian nasional, bisa fokus IOI. Saya juga mengikuti kompetisi lokal yang segera dilaksanakan seperti COMPFEST 2011, tetapi akhirnya tidak masuk ke final karena saat penyisihan perut saya sakit dan tidak sempat menyelesaikan satu soal lagi :(

Namun untungnya, saya menerima email dari humas Fasilkom UI bahwa pihak Fasilkom menawarkan beasiswa untuk peraih medali OSN. Namun, masih diperlukan seleksi. Jelas saya senang dengan informasi ini. Sebenarnya masih ada keraguan juga pada diri saya, mau kuliah di mana. Kandidat saya adalah UI atau NTU/NUS. Namun, untuk berkuliah di NTU/NUS saya membutuhkan medali IOI dalam memperlancar proses masuk. Saya tidak ingin bertaruh pada sesuatu yang belum terjadi. Akhirnya setelah melalui pemikiran panjang, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri ke UI lewat jalur masuk peraih medali OSN tersebut.

Hari-hari saya lewati istirahat sejenak, setelah melalui rangkaian kegiatan dahsyat (Pelatnas 2 -> ujian sekolah -> UN -> Pelatnas 3). Beberapa hari kemudian, saya menerima email bahwa saya DITERIMA di Fasilkom UI. Wah rasanya bahagia sekali, karena ada yang memungut saya setelah tidak diterima lewat SNMPTN undangan. Sejujurnya saya sakit hati, ketika awalnya ditolak pada SNMPTN undangan. Kebetulan pada zaman saya, banyak juga orang peraih medali internasional yang ditolak oleh perguruan tinggi negri (PTN). Entah apa keinginan PTN-PTN ini, mungkin mereka bertindak demikian supaya para jawara tersebut terpaksa berkuliah di luar negri (siapa tahu?)

Setelah mendapat kabar diterimanya saya di UI, rasanya lebih lega. Saya segera mengurus pendaftaran dan hal-hal sejenisnya, lalu mulai mendapatkan kembali semangat untuk belajar menuju IOI.

PJJ Pra-Pelatnas 4

Untuk tiga minggu sebelum Pelatnas 4, kami GoF (Gang of Four) alias empat besar TOKI 2011 diminta untuk mengerjakan soal-soal oleh Pak Rully Soelaiman. Kami mengerjakan beragam soal dari SPOJ yang SANGAT SULIT. Dalam seminggu, saya hanya sanggup menyelesaikan sekitar separuh dari soal yang diberikan.

Hal yang menyenangkan dari PJJ ini adalah kehadiran ietherpad. Ietherpad adalah online board yang memungkinkan kita menulis di sana. Berbeda dengan Google Docs (versi tahun 2014), ietherpad memberi warna bagi tulisan yang diketik oleh seseorang. Kami menjanjikan warna merah -> Jessica, biru -> Reinhard, ungu -> Hudi, dan hijau -> saya. Kami berdiskusi di sana untuk beberapa soal dan saling memberikan hint. Kadang-kadang, Chris (-tianto Handojo), Aji (Alham Fikri), Ashar, dan Risan juga turut mengerjakan sambil berbagi ilmu. Kalau melihat kombinasi warna-warna tersebut, rasanya jadi teringat masa-masa PJJ ini :') Sayangnya ietherpad sudah tutup, tidak ada lagi di internet. Untungnya saya sempat screenshot:

Ietherpad

Kadang-kadang juga ada kontes yang diatur oleh Risan. Untuk tahun 2011, Risan menjadi pendamping bagi GoF. Jadi dia lah yang akan menemani dan melatih kita selama menuju IOI.

Pelatnas 4

Akhirnya kami kembali lagi ke UI. Kali ini kami menginap di Margonda Residence, yang biasa disebut mares. Untuk Pelatnas 4 ini, semuanya jadi lebih mandiri. Untuk sarapan, makan siang, dan makan malam, kami diberikan uang dan perlu membeli makan sendiri. Cukup bagus, karena bisa berhemat dan menghindari pembelian makanan yang terlalu boros. Untuk makan siang, biasanya kami makan di kantin kerucut (Fakultas Ilmu Budaya), atau di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Sementara untuk makan malam, tergantung mood. Jika sedang rajin, kami pergi ke sekitar jalan Margonda dan mencari makanan, seperti pecel lele Lela, sate, atau restoran. Jika sedang malas, kami makan di warteg mares.

Tidak ada materi baru yang diajarkan pada Pelatnas 4. Isinya benar-benar latihan soal selama tiga minggu. Saya agak pesimis ketika harus menghadapi soal-soal IOI, rasanya takut dan seram dengan mereka. Entah mengapa, saya sangat tidak percaya diri. Sepertinya karena ketika saya membandingkan diri sendiri dengan alumni TOKI yang lebih senior seperti Risan, Ashar, atau Aji, kemampuan saya tidak ada apa-apanya. Namun, saya tetap tidak menyerah dan berusaha mengerjakan soal-soal itu sebaik mungkin.

Beberapa hal menarik pada Pelatnas 4:
  • Disewa tiga kamar, satu untuk Risan, satu untuk Jessica, dan satu untuk sisanya (saya, Reinhard, dan Hudi). Pada awal Pelatnas, ada beberapa penumpang tambahan yang baru selesai mengoreksi OSP di kamar saya, sehingga kamar itu terasa seperti akuarium yang penuh sesak dengan ikan.
  • Ada suatu hari yang mana kami pergi ke Batik Keris untuk membeli seragam Batik. Dengan bantuan dari Brian, akhirnya kami memilih batik hijau dengan motif asal Sumatera Selatan.
  • Suatu ketika, kami diajak Brian untuk makan di Hoka Hoka Bento sekaligus pemberian uang saku dari dinas pendidikan. Hanya saya yang membawa tas, sehingga uang saku dengan total puluhan juta rupiah berada pada tangan saya (dan kami naik angkot).
  • Hampir setiap hari kami main DotA! Entah main melawan AI, atau dua lawan dua.
  • Terdapat suatu titik yang mana saya sangat bosan. Mungkin titik jenuh? Sepertinya wajar, karena selama berminggu-minggu kami hanya berinteraksi dengan orang yang itu-itu saja, ditambah tekanan saat berlatih, dan tuntutan diri sendiri. Untuk mengatasinya, saya tidur.
  • Menjelang akhir Pelatnas 4, kami menghadapi "Legend Series", yaitu set soal yang disiapkan oleh: Derianto, Ilham, Brian, dan Risan.
  • Terdapat DengKlek Contest. Pada kontes ini, kami dibagi menjadi dua tim dan didampingi seorang alumni TOKI. Tim saya: saya, Hudi, Ashar dan tim satunya lagi: Reinhard, Jessica, dan Aji. Saya lupa siapa yang tim Deng dan siapa yang tim Klek. Pada akhir kontes, tim kami berhasil menang :') Kini DengKlek contest sudah menjadi tradisi tahun demi tahun, tercatat hingga Pelatnas 4 TOKI 2014.
  • Reinhart hampir kehilangan uang saku ke IOI, karena dia simpan di dalam kulkas, dan ketika pulang langsung ditinggal begitu saja. Untungnya dia kembali, dan mengambil lagi uang tersebut :))

Pelatnas 4 ditutup dengan makan bersama di restoran makanan laut dekat UI. Setelah melewati rangkaian Pelatnas 4, saya menjadi menyadari bertapa banyaknya kekurangan saya dalam menghadapi IOI. Namun, para pembina dan alumni sangat mendukung kami dan percaya bahwa kami bisa melakukan yang terbaik. Oleh karena itu, saya juga akan berjuang sebaik mungkin, sebagai pemberhentian akhir dari perjalanan sejak OSK 2009!

Foto dari kamera Pak Yugo

Sekuel kisah perjalanan di TOKI:

1 comment :

  1. Hmm undangannya nyoba kemana kak? Kalo ke ITB rasanya wajar ._.

    ReplyDelete